Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Friday, August 12, 2011
Al-Quran Menjawab Hati Yang Bersedih
Kamu sedang bersedih? merasa banyak masalah dan ujian? wah, kamu ga sendiri sob. Banyak yang berfikir seperti itu. Sebagian besar bilang : Ah, itu mah biasa, wajar sebagai manusia kita merasa jenuh, aga berat, dsb. Tapi benarkah begitu? Atau patutkah kita seperti itu? hey, sobat..bangun!! berwudhu, dan baca kitab penunjuk jalan yang terjaga keasliannya sampai hari akhir…Apapun pertanyaan kalian, pasti ada jawabannya dalam Al-Qur’an…terutama saat sedih, seperti di bawah ini..
Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji?
Qur’an Menjawab : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Lihat QS.Al-Ankabuut : 2).
“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Lihat juga QS.Al-Ankabuut : 3)
Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik?
Qur’an Menjawab : “…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Lihat QS.Al-Baqarah : 216)
Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur’an Menjawab : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya……….” (Lihat QS.Al-Baqarah : 286)
Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?
Qur’an Menjawab : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Lihat QS.Ali Imraan : 139)
Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?
Qur’an Menjawab : “…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Lihat QS.Yusuf : 87)
Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Qur’an Menjawab : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (Lihat QS.Ali Imraan : 200)
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. (Lihat QS.Al-Baqarah : 45)
Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur’an Menjawab : “….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal…….” (Lihat QS.At-Taubah : 129)
Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Qur’an Menjawab : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan surga – Nya……….” (Lihat QS.At-Taubah : 111)
Subhanalloh,
istiqomah, sobat..
Innalloha ma ana ^^
8 Tips Sukses Ala Aristoteles
Ingin sukses dan kaya raya seperti Aristoteles Sokrates Onassis(1906-1975)? Di bawah ini, ada “surat wasiat” yang konon juga jadi kiat suksesnya. Entah benar atau tidak, tapi beberapa hal yang ditulis kelihatannya masuk akal:
1. Jaga badanmu agar tetap sehat.Banggalah dengan fisik yang kita punya. Jangan risaukan hal-hal kecil,kita tidak sejelek seperti apa yang kita bayangkan. Ingat, kulit yang sehat akan membuat kita tampak seperti orang yang banyak uang.
2. Usahakan tersenyum, jangan suka cemberut. Perlihatkan bahwa segalanya beres. Tunjukkan bahwa hidupmu sehari-hari selalu tampak menyenangkan.
3. Jaga penampilanmu. Jangan pernah memperlihatkan dan menceritakan kemelaratanmu. Karena biasanya, orang tidak suka pada orang yang melarat.
4. Jangan tidur terlalu banyak. Kalau dapat mengurangi tidur 3 jam sehari, maka dalam setahun akan menambah waktu 1,5 bulan untuk meraih sukses.
5. Makan dan minum secukupnya.Jangan makan sambil bicara bisnis; tunggu sampai selesai dulu. Janganpula menghabiskan waktu berjam-jam di meja makan selagi ada pekerjaan mendesak, yang harus segera diselesaikan.
6. Kalau tidak punya modal, pinjam dulu dalam jumlah besar.Jangan meminjam dalam jumlah sedikit. Jangan pula sekali-kali menunda jadwal pembayaran. Jaga reputasi, buat pemodal atau Bank percaya padamu.
7. Pilih teman yang dapat mendorong prestasimu. Sebaliknya, hindari orang yang dapat mematahkan semangatmu.
8. Dengarkan orang lain. Buat mereka merasa senang. Hormati mereka, maka kita akan dihormati oleh semua orang. Ini adalah kunci sukses yang utama!!
Kisah Hikmah, Pendayung Sampan & Profesor
Suatu hari seorang profesor menyewa sebuah sampan untuk membuat kajian di tengah lautan.Pendayung itu merupakan lelaki tua yang sangat pendiam. Profesor sengaja mengupah lelaki tua itu kerana dia tidak mahu orang yang menemaninya banyak menyoal tentang apa yang dia lakukan.
Dengan tekun Profesor itu melakukan tugasnya tanpa menghiraukan pendayung sampan. Dia mengambil air laut dan diisi kedalam tabung uji, digoncang-goncang, kemudian mencatat sesuatu di dalam buku catatan dibawanya. Berjam-jam lamanya Profesor itu melakukan kajian dengan tekun sekali. Pendayung sampan mendongak ke langit, memandang pada awan yang mula berarak kelabu. Dalam hati dia berkata “Hmm..tak lama hujan lebat akan turun..”
“OK semua sudah siap mari kita balik.” Lantas pendayung itu memusingkan sampannya dan mula mendayung ke arah pantai. Dalam perjalanan itu baru Profesor itu membuka mulut menegur pendayung sampan.
“Dah lama kamu mendayung sampan?” Tanya Profesor kepada pendayung sampan. “Hmm..hampir seumur hidupku,” jawab si pendayung ringkas.
“Seumur hidup kamu? Jadi kamu tidak tahu apa-apa selain mendayung sampan?” tanya Profesor itu lagi.
“Ya..”jawab pendayung sampan dengan ringkas.
Profesor belum berpuas hati dengan jawapan pendayung tua itu. “Kamu tahu Geografi?” Si pendayung menggeleng..
“Kalau begitu kamu hilang 25% dari usia hidup kamu.” “Kamu tahu Biologi?”tanya Profesor itu lagi. Pendayung sampan itu menggeleng lagi.
“Kasihan kamu telah kehilangan 50% dari usia kamu.”
“Kamu tahu Fizik?” Profesor itu masih bertanya. Seperti tadi pendayung sampan itu hanya menggeleng.
“Sungguh kasihan kalau begitu kamu telah kehilangan 75% usia kamu.Malang sungguh nasib kamu semuanya tidak tahu. Seluruh hidup kamu hanya dihabiskan dengan sampan,tak ada gunanya lagi,” Profesor itu mengejek dan berkata dengan angkuh setelah merasakan dirinya yang terhebat. Pendayung sampan hanya mendiamkan diri.
Selang beberapa minit kemudian hujan turun dengan lebat, tiba-tiba ombak besar datang melanda. Sampan yang mereka naiki terbalik. Profesor dan pendayung sampan terpelanting. Sempat pula pendayung itu bertanya, “Kamu tahu berenang?” Profesor hanya menggeleng.
“Sayang sekali kamu telah kehilangan 100% nyawa kamu.” Kata pendayung itu sambil berenang ke pantai meninggalkan Profesor yang angkuh.
Aku Bermimpi
Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku serta menunjukkan keadaan di surga.Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja yang penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata,”Ini adalah Seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah, diterima”. Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia. Kemudian, aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim kemanusia-manusia yang masih hidup yang memintanya”. Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu.Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitubanyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi. Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun. “Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata Malaikatku pelan. Dia tampak malu. “Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?”, tanyaku. “Menyedihkan”, Malaikat-ku menghela napas. “Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih”.
“Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas rahmat Tuhan?”, tanyaku. “Sederhana sekali”, jawab Malaikat. “Cukup berkata , ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN, Terima kasih, Tuhan “. “Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?”, tanyaku. Malaikat-ku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, Pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, Maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini”. “Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu,dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia”. “Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu” . Juga…. “Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan, engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini. “Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat, Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia”. “Jika engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan religius tanpa ada ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan, atau kematian , Maka engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang di dunia”. “Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan , Maka engkau termasuk orang yang sangat jarang”. “Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum,maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan”. “Jika engkau dapat membaca note ini, maka engkau menerima rahmat ganda yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu, berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih dirahmatidaripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali”.
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah Allah anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa dirahmatiNya kita semua.
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmumenyatakan bahwa, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu’ “. (QS:Ibrahim (14) :7 ).
Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih: “Terima kasih, Allah! Terima kasih, Allah, atas anugerahmu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi note ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi”.
Cerita Tentang Katak Kecil
Pada suatu hari ada sekumpulan katak-katak kecil,…
… yang berlomba-lomba
… yang berlomba-lomba
Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.
Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberikan semangat kepada para peserta…
Perlombaan pun dimulai…
Secara jujur:
Tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa berhasil mencapai puncak menara.
Terdengar ada yang berkata:
“Oh, jalannya terlalu susahhhhh!!
Mereka TIDAK AKAN BISA sampai ke puncak.”
Mereka TIDAK AKAN BISA sampai ke puncak.”
atau:
“Tidak ada kesempatan untuk berhasil…Menaranya terlalu tinggi…!!
Katak-Katak kecil mulai berjatuhan. Satu persatu…
… Kecuali mereka yang tetap bersemangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi..
Penonton terus bersorak
“Terlalu susah!!! Tak seekor pun yang akan berhasil!!!”
Lebih banyak lagi katak kecil yang lelah dan menyerah…
…Tapi ada SATU yang tetap melangkah hingga semakin tinggi dan tinggi…
Dia tak kenal menyerah kalah!
Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali seekor katak kecil yang begitu berusaha keras dan menjadi satu-satunya yang BERHASIL sampai KE PUNCAK!
SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?
Seekor peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil itu mempunyai kekuatan untuk mencapai tujuan?
Ternyata…
Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!
Nasihat dari cerita ini adalah:
Jangan sekali kali mendengar kata orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis…
…karena mereka akan mengambil sebahagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita.
Selalulah ingat kata-kata bertuah yang ada.
Karena segala sesuatu yang kita dengar dan kita baca akan mempengaruhi perilaku kita!
Karena itu:
Selalu tetap….
POSITIVE!
Dan yang terpenting:
Bersikap TULI jika ada orang mengatakan bahwa KITA tidak bisa mencapai cita-cita kita!
Selalu berpikir:
I can do this!
Kirim pesanan ini kepada minimum 5 sahabat.
Berikan mereka motivasi!!!
Berikan mereka motivasi!!!
Karena sahabat yang baik adalah sahabat yang sering memberi motivasi antara satu sama lain.
Delapan Penyakit
Buya Hamka
Delapan Penyakit
Di dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW terdapat satu kisah yang patut menjadi pelajaran bagi kita untuk bekal mengarungi hidup. Pada suatu pagi, kira-kira pukul sembilan pagi, Rasulullah SAW berjalan dari rumahnya menuju ke masjid beliau yang mulia, di Madinah. Waktu-waktu tersebut biasanya ada orang yang sembahyang di masjid, sholat Dhuha, akan tetapi umumnya masyarakat sudah keluar dari rumahnya pagi-pagi bekerja menurut bidangnya masing-masing, ada yang berniaga, bertani, menggembalakan unta atau kambingnya, dan tinggallah beberapa orang saja. Beliau melihat di sudut masjid, ada seorang pemuda sedang duduk tafakkur termenung, mukanya terlihat sangat muram, nampak kesedihan di dalam hatinya, Rasulullah SAW mendekat kepada pemuda yang tafakkur itu. Setelah dilihatnya Rasulullah SAW datang, diapun menengadahkan muka, Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Mengapa di saat begini engkau duduk termenung di dalam masjid dan wajahmu menampakkan kesedihan yang sangat? Apa yang sedang kau alami sekarang ini?.” Pemuda tadi menjawab,”Aku ditimpa duka cita ya Rasulullah SAW, dikarenakan hutang.” Rupanya orang ini sedang memiliki hutang. “Hutang telah lama, janji sudah dekat, uang untuk membayar belum ada, itu yang membuat saya termenung disini ya Rasulullah SAW”, dengan senyum Rasulullah SAW menjawab, “Bersediakah Engkau kalau aku ajarkan kepadamu suatu bacaan, dimana apabila bacaan ini (yang berupa doa) engkau baca pagi dan petang dengan hati khusyu’, Insya Allah hutangmu itu akan terbayar.” Pemuda tadi dengan antusias menjawab, “Tentu ya Rasulullah SAW, aku senang sekali kalau engkau mengajarkan kepadaku, apakah doa itu?” Lalu Rasulullah SAW membacakan dan mengajarkan kepada pemuda itu doa ini, “Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan wa ‘audzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa ‘audzu bika minal jubni wal bukhli wa a’udzu bika min gholabatid daini wa qohrir rijal.Sebelum kita uraikan artinya atau tafsirkan satu demi satu, sebaiknya kita artikan secara keseluruhan terlebih dahulu. Kalimat doa tersebut artinya adalah Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau kepada delapan hal. Yang pertama aku berlindung kepada Engkau dari duka cita dan kesusahan, dan aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas, dan aku berlindung kepada Engkau dari bakhil (berat mengeluarkan uang) dan sifat pengecut atau penakut, dan aku berlindung kepada Engkau dari pengaruh berhutang dan dari kekuasaan orang lain atas diri kita sehingga tidak memiliki kemerdekaan kepribadian lagi, inilah delapan hal yang diminta Rasulullah SAW kepada Tuhan, semoga kita jangan diserang oleh penyakit ini, karena adanya penyakit ini dalam diri menyebabkan kita menjadi pribadi yang lemah, tidak lagi memiliki kepribadian yang gagah, padahal di dalam agama kita tempat takut kita cuma satu yaitu Allah, tidak ada yang lain.
Yang pertama, susah. Apabila orang sudah susah, pikirannya sudah buntu, jalan untuk maju tidak ada lagi. Padahal, di dalam kehidupan, manusia tidak akan berjalan di atas jalan yang datar saja yang bertaburkan bunga, kehidupan itu mendaki, menurun, melereng, berenang, melewati ombak dan gelombang, itu pasti dalam hidup. Apa yang disusahkan? Kusut? Tak ada kusut yang tak selesai, Keruh? Tak ada keruh yang tidak bisa menjadi jernih. Apabila pikiran kita telah susah terlebih dahulu, maka gelaplah jalan yang kita tempuh ke depan dalam kehidupan tadi.
Yang kedua, kita disuruh berlindung kepada Allah dari duka cita. Yang menyebabkan orang berduka cita memang banyak, misalnya kehilangan barang yang disukai, kematian orang yang disenangi, bahaya yang datang dengan tiba-tiba dan lain sebagainya lalu tumbuh duka cita. Kalau kesusahan menjadikan soal yang kita hadapi menjadi kusut, kedukaan menyebabkan jalan yang kita tempuh menjadi gelap. Dua hal itu yang menyebabkan manusia mendapat rintangan di dalam hidupnya.
Lalu yang ketiga, aku berlindung kepada Engkau Ya Allah dari sifat lemah, yaitu lemah pikiran, tidak ada energi dan semangat lagi, tidak ada inisiatif lagi, menyerah saja, lemah. Belum dihadapi suatu persoalan, hati sudah lemah terlebih dahulu. Merasa soal itu terlalu besar, padahal kalau dihadapi, tidak ada kusut yang tidak terselesaikan, tidak ada keruh yang tidak terjernihkan.
Nah, yang lebih berbahaya lagi adalah yang keempat, sifat malas. Kalau sudah bersifat malas, apa lagi yang mau dikerjakan? Kita duduk duduk termenung saja dalam kemalasan, angan-angan banyak cita-cita mati, angan-angan hendak terbang, padahal sayap tidak ada. Angan-angan hendak mempunyai ini, mempunyai itu, ingin memiliki Mercedes Benz, rumah yang besar, tapi ikhtiar tidak ada. Sebab itu ada pepatah guyonan dari orang tua kita di jaman penjajahan dulu, Mati Belanda karena pangkat, mati Cina karena kaya, mati Melayu atau Indonesia karena angan-angan. Malas itu juga tercermin dalam sikap kita. Jalannya lunglai, matanya muram, tak jauh dia memandang. Ini adalah penyakit juga.
Yang kelima dan keenam, berlindung dari penyakit bakhil dan pengecut, ini lebih berbahaya lagi. Dikumpulkannya harta banyak-banyak, maksudnya hendak menguasai harta itu. Lama-lama dengan tidak disadarinya, harta itulah yang menguasai dia, dia menjadi bakhil, siang malam tidak ada kesenangan. Cuma sibuk cari uang dan cari uang. Kemudian disimpan banyak-banyak. Gunanya ya cuma mengumpulkan itu saja, berapa banyak orang yang mengumpulkan harta banyak-banyak, manfaatnya tidak didapat. Saya teringat cerita jaman dahulu di kota Medan. Ada satu orang yang kaya raya, sangat terkenal kekayaannya di Medan, rumahnya banyak dan harta lainnya juga melimpah. Jika bepergian, dia selalu berjalan kaki dan memakai payung, padahal orang-orang sudah mulai membeli mobil bermacam-macam merknya.Justru anaknyalah yang mengambil manfaat dari kekayaan ayahnya itu dengan membeli mobil untuk dipakainya sendiri. Lalu orang bertanya padanya, “Anak Tuan sudah memakai mobil, kenapa Tuan masih jalan kaki?”, orang bakhil tadi menjawab, “Saya anak orang miskin, sedangkan anak saya adalah anak orang kaya”, begitu katanya. Nah inilah contoh orang yang bukan lagi mencari harta untuk menguasai harta itu, tetapi dia mencari harta untuk dikuasai oleh harta itu.
Yang keenam lebih jahat lagi, yaitu sifat pengecut. Pengecut ini menjadikan separuh kehidupan manusia menjadi gagal. Ada pepatah,”Kalau Engkau berniaga atau berusaha, meskipun modalmu tadinya tidak ada, asal Engkau berani, itulah modal utama dalam hidup. Sesuai juga dengan pepatah Melayu, “Putuslah tali layang-layang, robeklah kertas tentang bingkai, hidup jangan mengepalang, berani kaya, berani pakai.” Hidup jangan mengepalang (serba tanggung), untuk kaya, pakailah pakaian keberanian, karena keberanian adalah modal. Didalam berniaga memang tidak selalu beruntung, kadang-kadang rugi juga, tapi, kalau keberanian yang hilang, separuh dari kekayaan yang ada tadi sudah habis. Walaupun harta masih ada, kalau keberanian hilang, artinya separuh sudah harta sudah hilang terlebih dahulu, karena tidak dipercaya orang.
Yang ketujuh, berlindung dari pengaruh hutang. Berhutang boleh saja, dan keberanian itulah yang dipakai untuk mencari modal buat mengembalikan. Tetapi kalau pengecut, kalau berhutang, maka akan susah untuk mendapat harta untuk membayarnya.
Yang kedelapan adalah tidak adanya kemerdekaan diri dalam menyatakan perasaan kita karena kita segan kepada orang, kita terlalu banyak berhutang budi padanya, terlalu banyak mendapat hadiah darinya, dan lain-lain. Sehingga mulut kita menjadi tertutup dan tidak dapat bercakap lagi sesuai apa yang ingin hati kita katakan, karena ditekan oleh hutang budi kepada orang tadi.
Inilah delapan perkara yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW kepada pemuda yang duduk tadi. Dapatlah kita mengambil pedoman dalam kehidupan kita, bahwa yang paling penting adalah kemerdekaan jiwa.Lupa bahwa bangsa kita telah merdeka, dan dirinya masih dalam keadaan terjajah, bukan oleh bangsa penjajah, tapi penjajahan yang datang dari sifat-sifat yang lemah yang tadi kita bahas.
ditulis ulang dari kaset rekaman ceramah Buya HAMKA (Haji Abdul Malik bin Karim Amrullah)
Delapan Penyakit
Di dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW terdapat satu kisah yang patut menjadi pelajaran bagi kita untuk bekal mengarungi hidup. Pada suatu pagi, kira-kira pukul sembilan pagi, Rasulullah SAW berjalan dari rumahnya menuju ke masjid beliau yang mulia, di Madinah. Waktu-waktu tersebut biasanya ada orang yang sembahyang di masjid, sholat Dhuha, akan tetapi umumnya masyarakat sudah keluar dari rumahnya pagi-pagi bekerja menurut bidangnya masing-masing, ada yang berniaga, bertani, menggembalakan unta atau kambingnya, dan tinggallah beberapa orang saja. Beliau melihat di sudut masjid, ada seorang pemuda sedang duduk tafakkur termenung, mukanya terlihat sangat muram, nampak kesedihan di dalam hatinya, Rasulullah SAW mendekat kepada pemuda yang tafakkur itu. Setelah dilihatnya Rasulullah SAW datang, diapun menengadahkan muka, Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Mengapa di saat begini engkau duduk termenung di dalam masjid dan wajahmu menampakkan kesedihan yang sangat? Apa yang sedang kau alami sekarang ini?.” Pemuda tadi menjawab,”Aku ditimpa duka cita ya Rasulullah SAW, dikarenakan hutang.” Rupanya orang ini sedang memiliki hutang. “Hutang telah lama, janji sudah dekat, uang untuk membayar belum ada, itu yang membuat saya termenung disini ya Rasulullah SAW”, dengan senyum Rasulullah SAW menjawab, “Bersediakah Engkau kalau aku ajarkan kepadamu suatu bacaan, dimana apabila bacaan ini (yang berupa doa) engkau baca pagi dan petang dengan hati khusyu’, Insya Allah hutangmu itu akan terbayar.” Pemuda tadi dengan antusias menjawab, “Tentu ya Rasulullah SAW, aku senang sekali kalau engkau mengajarkan kepadaku, apakah doa itu?” Lalu Rasulullah SAW membacakan dan mengajarkan kepada pemuda itu doa ini, “Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan wa ‘audzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa ‘audzu bika minal jubni wal bukhli wa a’udzu bika min gholabatid daini wa qohrir rijal.Sebelum kita uraikan artinya atau tafsirkan satu demi satu, sebaiknya kita artikan secara keseluruhan terlebih dahulu. Kalimat doa tersebut artinya adalah Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau kepada delapan hal. Yang pertama aku berlindung kepada Engkau dari duka cita dan kesusahan, dan aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas, dan aku berlindung kepada Engkau dari bakhil (berat mengeluarkan uang) dan sifat pengecut atau penakut, dan aku berlindung kepada Engkau dari pengaruh berhutang dan dari kekuasaan orang lain atas diri kita sehingga tidak memiliki kemerdekaan kepribadian lagi, inilah delapan hal yang diminta Rasulullah SAW kepada Tuhan, semoga kita jangan diserang oleh penyakit ini, karena adanya penyakit ini dalam diri menyebabkan kita menjadi pribadi yang lemah, tidak lagi memiliki kepribadian yang gagah, padahal di dalam agama kita tempat takut kita cuma satu yaitu Allah, tidak ada yang lain.
Yang pertama, susah. Apabila orang sudah susah, pikirannya sudah buntu, jalan untuk maju tidak ada lagi. Padahal, di dalam kehidupan, manusia tidak akan berjalan di atas jalan yang datar saja yang bertaburkan bunga, kehidupan itu mendaki, menurun, melereng, berenang, melewati ombak dan gelombang, itu pasti dalam hidup. Apa yang disusahkan? Kusut? Tak ada kusut yang tak selesai, Keruh? Tak ada keruh yang tidak bisa menjadi jernih. Apabila pikiran kita telah susah terlebih dahulu, maka gelaplah jalan yang kita tempuh ke depan dalam kehidupan tadi.
Yang kedua, kita disuruh berlindung kepada Allah dari duka cita. Yang menyebabkan orang berduka cita memang banyak, misalnya kehilangan barang yang disukai, kematian orang yang disenangi, bahaya yang datang dengan tiba-tiba dan lain sebagainya lalu tumbuh duka cita. Kalau kesusahan menjadikan soal yang kita hadapi menjadi kusut, kedukaan menyebabkan jalan yang kita tempuh menjadi gelap. Dua hal itu yang menyebabkan manusia mendapat rintangan di dalam hidupnya.
Lalu yang ketiga, aku berlindung kepada Engkau Ya Allah dari sifat lemah, yaitu lemah pikiran, tidak ada energi dan semangat lagi, tidak ada inisiatif lagi, menyerah saja, lemah. Belum dihadapi suatu persoalan, hati sudah lemah terlebih dahulu. Merasa soal itu terlalu besar, padahal kalau dihadapi, tidak ada kusut yang tidak terselesaikan, tidak ada keruh yang tidak terjernihkan.
Nah, yang lebih berbahaya lagi adalah yang keempat, sifat malas. Kalau sudah bersifat malas, apa lagi yang mau dikerjakan? Kita duduk duduk termenung saja dalam kemalasan, angan-angan banyak cita-cita mati, angan-angan hendak terbang, padahal sayap tidak ada. Angan-angan hendak mempunyai ini, mempunyai itu, ingin memiliki Mercedes Benz, rumah yang besar, tapi ikhtiar tidak ada. Sebab itu ada pepatah guyonan dari orang tua kita di jaman penjajahan dulu, Mati Belanda karena pangkat, mati Cina karena kaya, mati Melayu atau Indonesia karena angan-angan. Malas itu juga tercermin dalam sikap kita. Jalannya lunglai, matanya muram, tak jauh dia memandang. Ini adalah penyakit juga.
Yang kelima dan keenam, berlindung dari penyakit bakhil dan pengecut, ini lebih berbahaya lagi. Dikumpulkannya harta banyak-banyak, maksudnya hendak menguasai harta itu. Lama-lama dengan tidak disadarinya, harta itulah yang menguasai dia, dia menjadi bakhil, siang malam tidak ada kesenangan. Cuma sibuk cari uang dan cari uang. Kemudian disimpan banyak-banyak. Gunanya ya cuma mengumpulkan itu saja, berapa banyak orang yang mengumpulkan harta banyak-banyak, manfaatnya tidak didapat. Saya teringat cerita jaman dahulu di kota Medan. Ada satu orang yang kaya raya, sangat terkenal kekayaannya di Medan, rumahnya banyak dan harta lainnya juga melimpah. Jika bepergian, dia selalu berjalan kaki dan memakai payung, padahal orang-orang sudah mulai membeli mobil bermacam-macam merknya.Justru anaknyalah yang mengambil manfaat dari kekayaan ayahnya itu dengan membeli mobil untuk dipakainya sendiri. Lalu orang bertanya padanya, “Anak Tuan sudah memakai mobil, kenapa Tuan masih jalan kaki?”, orang bakhil tadi menjawab, “Saya anak orang miskin, sedangkan anak saya adalah anak orang kaya”, begitu katanya. Nah inilah contoh orang yang bukan lagi mencari harta untuk menguasai harta itu, tetapi dia mencari harta untuk dikuasai oleh harta itu.
Yang keenam lebih jahat lagi, yaitu sifat pengecut. Pengecut ini menjadikan separuh kehidupan manusia menjadi gagal. Ada pepatah,”Kalau Engkau berniaga atau berusaha, meskipun modalmu tadinya tidak ada, asal Engkau berani, itulah modal utama dalam hidup. Sesuai juga dengan pepatah Melayu, “Putuslah tali layang-layang, robeklah kertas tentang bingkai, hidup jangan mengepalang, berani kaya, berani pakai.” Hidup jangan mengepalang (serba tanggung), untuk kaya, pakailah pakaian keberanian, karena keberanian adalah modal. Didalam berniaga memang tidak selalu beruntung, kadang-kadang rugi juga, tapi, kalau keberanian yang hilang, separuh dari kekayaan yang ada tadi sudah habis. Walaupun harta masih ada, kalau keberanian hilang, artinya separuh sudah harta sudah hilang terlebih dahulu, karena tidak dipercaya orang.
Yang ketujuh, berlindung dari pengaruh hutang. Berhutang boleh saja, dan keberanian itulah yang dipakai untuk mencari modal buat mengembalikan. Tetapi kalau pengecut, kalau berhutang, maka akan susah untuk mendapat harta untuk membayarnya.
Yang kedelapan adalah tidak adanya kemerdekaan diri dalam menyatakan perasaan kita karena kita segan kepada orang, kita terlalu banyak berhutang budi padanya, terlalu banyak mendapat hadiah darinya, dan lain-lain. Sehingga mulut kita menjadi tertutup dan tidak dapat bercakap lagi sesuai apa yang ingin hati kita katakan, karena ditekan oleh hutang budi kepada orang tadi.
Inilah delapan perkara yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW kepada pemuda yang duduk tadi. Dapatlah kita mengambil pedoman dalam kehidupan kita, bahwa yang paling penting adalah kemerdekaan jiwa.Lupa bahwa bangsa kita telah merdeka, dan dirinya masih dalam keadaan terjajah, bukan oleh bangsa penjajah, tapi penjajahan yang datang dari sifat-sifat yang lemah yang tadi kita bahas.
ditulis ulang dari kaset rekaman ceramah Buya HAMKA (Haji Abdul Malik bin Karim Amrullah)
Percaya Diri
Percaya kepada diri sendiri adalah termasuk tiang akhlaq yang utama. Yang sanggup menggenggam sifat percaya diri hanyalah orang yang memiliki kepribadian kuat. Percaya diri menimbulkan kekuatan kemauan dan kehendak. Membuat orang berusaha sendiri, dengan tidak mengharap bantuan orang lain. Percaya diri adalah buah dari jiwa yang merdeka.
Percaya kepada diri sendiri membuahkan kemenangan hidup. Bukti nyata dapat dilihat pada orang yang memiliki kesuksesan seperti Thomas Alfa Edison di dunia ilmu pengetahuan dan tokoh lain di bidangnya masing-masing. Percaya diri membuahkan kenikmatan dalam diri yang sangat besar, yang sulit dirasakan orang lain. Percaya diri menyebabkan kemenangan suatu seruan, baik seruan perubahan di bidang politik maupun agama. Atas dasar kepercayaan dirilah, para Rasul bekerja menegakkan agama yang benar, sehingga suara mereka terdengar kemana-mana. Apa yang mereka ajarkan abadi, walaupun tubuh mereka telah dikuburkan beribu tahun. Lantaran percaya dirilah, orang-orang besar tidak gentar menghadapi bahaya yang besar-besar dan rintangan yang tak terhitung.
Dalam sejarah yang ditempuh Islam, tampak sifat-sifat percaya diri dalam perjalanannya. Suatu bangsa yang tadinya tidak terkenal dalam tempo yang tidak sampai 50 tahun telah dapat mengalahkan kerajaan-kerajaan yang jauh lebih besar dan maju. Itulah bangsa Arab, bangsa yang sejak mula-mula Islam datang padanya, telah diajarkan percaya diri. Lantaran percaya dirilah, mereka dapat menghadapi kekuatan orang lain.
Percaya diri menyebabkan Abu Bakar tidak gentar sedikitpun menghadapi kesulitan dan huru-hara yang terjadi setelah Rasulullah meninggal. Dapat dikatakan pada waktu itu seluruh tanah Arab memberontak dan hendak memutuskan hubungan dengan pusat pemerintahan Islam (Madinah). Munculnya Nabi-Nabi palsu, penolakan kewajiban zakat dan lain-lain. Padahal Nabi yang selama ini menjadi panutan, telah meninggal. Tampillah Abu Bakar kedepan. Tegak dengan penuh percaya diri, bahwa dia sanggup memadamkan pemberontakan itu dan menghadapi segala kesulitan. Dia tampil kedepan, tidak mengenal kata mundur dalam kamusnya, dan dia menang.
Percaya dirilah yang menyebabkan Umar bin Khattab mengatur tentara untuk menaklukkan kerajaan Persia dan Romawi yang sepuluh kali lebih besar. Padahal tentaranya sedikit dan senjatanya tidak banyak.
Dan percaya dirilah bekal Thariq bin Ziyad menyeberangi benua Afrika hendak menuju Andalusia (Spanyol). Dibakarnya kapal yang dipergunakannya untuk mengangkut tentaranya, agar mereka tidak ingin kembali pulang. Dia berpidato pada seluruh tentaranya: “Sekarang lautan di belakangmu, musuh di hadapanmu. Nasibmu bergantung kepada pedangmu. Makanan tersedia ada, yaitu di negeri yang akan kamu taklukkan”.
Demikian juga beberapa orang terkenal, orang yang membuka dan memasuki tempat-tempat baru, seperti Ibnu Bathuthah dari Arab, Columbus penemu benua Amerika dan beribu-ribu lagi yang namanya tercantum dalam sejarah. Orang yang telah membentuk dan memperkaya “peta” dunia ini.
Orang Islam adalah kaum yang sepantasnya percaya diri. Sebab kekuatan yang ada pada dirinya digantungkannya kepada kekuatan yang mengatur alam ini, yaitu Allah Yang Maha Kuasa.
Barangsiapa yang percaya kepada Tuhannya, tidaklah merasa takut dan gentar berenang didalam lautan hidup ini. Dia tidak percaya bahwa akan ada suatu kekuatan dialam ini yang sanggup merintangi cita-citanya, kalau tanpa ijin dari Allah. Dia tidak percaya bahwa dia akan ditimpa bahaya kalau tidak telah tertulis dalam ilmuNya. Dan dia selalu berbaik sangka kepada Tuhannya.
Ada dua pelajaran dalam Islam yang menyuburkan kepercayaan kepada diri sendiri.
Pertama Tauhid, mengakui bahwa Tuhan Esa dalam kekuasaanNya. Segala kekuasaan yang ada di alam ini hanyalah pinjaman saja dari Tuhan. Dia yakin kalau ada selain Tuhan tempatnya takut, rusaklah tauhidnya dan binasalah imannya.
Pelajaran kedua ialah takdir. Yaitu mengakui buruk dan baik, sakit dan senang tidaklah akan terjadi kalau tidak dengan izin Allah. Kaum muslimin bukanlah seperti kaum Jabariyah atau Fatalis yang tidak mengakui adanya ikhtiar pada hamba, hanya pada Tuhan semata-mata, sehingga lemah hati dan putus asa. Tidak pula menjadi kaum Qodariyah, yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan Tuhan dengan segala apa yang dikerjakan oleh manusia, melainkan tergantung pada diri manusia itu sendiri saja. Mereka tegak ditengah-tengah. Mereka berusaha dan berikhtiar, serta percaya kepada Tuhan. Bahwa Tuhan senantiasa akan memimpin ke jalan yang baik. Senantiasa akan memberi petunjuk kepada kebenaran. Dia percaya bahwa “sebab” selalu berhubungan dengan “akibat”. Ditanam biji tumbuhlah pohon, dan dari pohon itu kelak tumbuhlah buah. Dari berbisnis timbullah laba. Dari kemalasan timbullah miskin. Dan mereka yakin pula bahwa sebab itu tidak akan ada harganya kalau tidak disertai dengan pertolongan dan pimpinanNya. Sebab di tanganNyalah terletak kekuasaan segenap langit dan penjuru bumi.
Kalau hanya percaya pada diri sendiri, tidak ada hubungan dengan kepercayaan akan kekuatan yang lebih tinggi, maka pada awal-awalnya belumlah terasa kekurangannya. Nanti pada akhirnya di ujung perjalanan akan timbullah kesadaran bahwa tidaklah segala yang dituju selalu tercapai melainkan ketentuan Tuhan jugalah yang tercapai.
Sebab itu berusahalah sendiri dan janganlah mengharapkan pertolongan orang lain. Di dalam Islam berkali-kali diterangkan, di akhirat kelak, tiap-tiap manusia akan ditanya usaha dan amalnya sendiri-sendiri. Tidak ada hubungan keturunan yang akan berpengaruh, sehingga Fatimah yang anak kandung Nabi, tatkala beliau masih hidup, sudah disuruh oleh Rasul untuk menjaga dirinya sendiri dari api neraka.
Pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita sendiri, apabila diserahkan orang lain, hasilnya tentu tidak memuaskan kita. Karena orang lain tidak dapat mengetahui sepenuhnya apa yang akan menyenangkan dan memuaskan hati kita.
Jika kita selalu tidak mau memikul tanggung jawab dan lebih suka orang lain yang mengerjakan, ilmu kitapun akan sedikit di bidang itu. Sehingga lama kelamaan kita menjadi bodoh.
Orang yang selalu melepas tanggung jawab, seperti anggota badan yang terkena penyakit dan busuk, yang layak untuk diamputasi.
Banyak pekerjaan yang jika diserahkan kepada orang lain dan diharapkan supaya menyempurnakannya, namun malah tidak selesai sesuai deadline-nya. Setelah kita kerjakan sendiri, malah selesai saat itu juga.
Lantaran percaya dirilah timbul bermacam-macam sifat mulia yang lain. Yang terpenting ialah kreatifitas berpikir.
Kreatifitas berpikir adalah adalah pangkal kemajuan dunia. Orang-orang yang kreatif pikirannya, telah menelurkan ide yang “tinggi”, yang kadang-kadang tidak tercerna oleh orang lain. Mula-mula kreatifitas ditolak orang. Maka orang yang pikirannya kreatif berjalan lebih awal, berpikir lebih ke depan dan berakal lebih maju. Kalau bukan karena kreatifitas pikiran, tentu manusia tetap akan disitu-situ saja, tidak mencapai kemajuan dalam segala bidang. Sampai sekarang tentu akan diam di dalam gua batu, makan rumput dan tak tahu apa itu masakan. Kreatifitas berpikir sangat diperlukan bagi pebisnis dalam menjalankan bisnisnya, orang berkebun pada kebunnya, dan segala macam aktivitas. Agar muncul “jalan baru”, bukan menurut saja pada kebiasaan orang.
Contohnya, kreatifitas berpikir di bidang transportasi. Dulu hanya kapal dengan layar kain, setelah itu kapal uap, akhirnya kapal yang dijalankan dengan mesin. Mobil buatan 80 tahun yang lalu, berbeda dengan sekarang, bentuknya, kecepatannya dan sebagainya. Segala yang masih “tetap”dalam kungkungan pikiran dan tidak mengenal kreatifitas berpikir akan terkubur atau tersingkir di tepi masyarakat, dan masyarakat yang lebih “cepat” akan berlalu.
Yang menyebabkan pikiran tidak kreatif, terutama karena bodoh, atau jahil, atau goblok. Kebodohan adalah adalah dinding yang menghambat jalan menuju keinginan. Terutama didalam memikirkan hal yang penting-penting. Kebodohan juga disebabkan buta huruf. Tidak pandai menulis dan membaca.
Pada burung terdapat kebiasaan mendidik anak-anaknya agar percaya diri. Si Ibu mendidik anaknya pelan-pelan agar terampil terbang sendiri. Diajarkannya dari melangkahkan kaki hingga membentangkan sayap, lalu disuruhnya terbang sendiri.
Setengah dari faktor tumbuhnya percaya diri dan kreatif dalam berpikir adalah banyak melakukan perjalanan jauh. Jangan “bagai katak dalam tempurung”, dikiranya tempurung itulah langit. Banyak melakukan perjalanan jauh menanamkan kreatifitas dan keluasan berpikir, belajar mengetahui kelebihan yang dimiliki bangsa lain dan kekurangan yang kita miliki.
Orang yang percaya diri cita-citanya tinggi. Jika sifat ini tumbuh di jiwa muda-mudi, akan timbullah kelak pada bangsa itu, suatu tenaga baru. Sebab pemuda adalah cermin masa depan. Jika bangsa itu lemah, orang itu akan mempunyai cita-cita dan keinginan yang tinggi, supaya menjadi kuat. Jika bangsanya dijajah bangsa lain, dia akan berusaha memerdekakan bangsanya sekuat-kuatnya. Dia ingin tegak sebagaimana orang lain tegak. Dan didalam berpuluh bahkan beratus tahun kemudian, tegaklah kebesaran dan kemegahan, sampai nama bangsa tercatat selama-lamanya dalam sejarah. Sebabnya ialah tumbuhnya perasaan percaya diri, kreatifitas dalam berpikir dan cita-cita yang tinggi.
Sebab itu, sebenarnya yang dianugerahkan Allah pada kita hanyalah timbulnya cita-cita. Karena kekuatan itu sebenarnya telah ada dalam diri, dan cita-cita itulah yang memunculkannya. Jika cita-cita tidak ada, kekuatan tidak akan datang.
Maka kelakuan yang paling hina ialah, “belum pergi sudah kembali”, yang paling menghambat jalan menuju kemuliaan.
Buya HAMKA
(Haji Abdul Malik bin Karim Amrullah)







