Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Friday, September 23, 2011
MEMBUKA PINTU SURGA
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin
Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah
menyabut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan
suka cita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di
rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata
kepada Fatimah,”Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang
sepeserpun.”Fatimah menyahut sambil tersenyum,”Memang yang mengatur
rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah
Ta’ala.”
“Terima kasih,” jawab Ali.
Matanya memberat lantaran istrinya
begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh
Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih. Ali lalu berangkat ke
masjid untuk menjalankan salat berjama’ah.
Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua,”Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?”
Áli menjawab heran,”Ya betul. Ada apa, Tuan?”
Orang tua itu merogoh kantungnya seraya
menjawab,”Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat
membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi terimalah uang ini,
sebab engkaulah ahli warisnya.” Dengan gembira Ali mengambil haknya dari
orang itu sebanyak 30 dinar. Tentu saja Fatimah sangat gembira
memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan
kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak
pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari. Ali pun bergegas
berangkat ke pasar.
Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat
seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan
hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang
kehabisan bekal di perjalanan.”
Tanpa pikir panjang lebar Ali memberikan
seluruh uangnya kepada orang itu. Pada waktu ia pulang dan Fatimah
keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan
peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum,
berkata, “Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya
saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah
daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga
buat kita.”
SANG SUFI
Tersebutlah seorang penganut tasawuf
bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam
sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana.
Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain
penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur
berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota
besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi
ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli
dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun,
Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan
usianya.
Salah seorang anaknya pernah bertanya,
“Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah
mampu?” Lalu jawab sang sufi yang tidak terkenal itu,”Ada beberapa sebab
mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil. Pertama, karena
betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat
untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi
penghuninya. Sehari-harian ia Cuma mengurung diri sambil menikmati
keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas
dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur
kepada Allah.”
Anaknya yang sudah cukup dewasa itu
membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah
melanjutkan argumentasinya, “Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil,
kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri
dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih selesa. Ketiga,
kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi
setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu
menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih
terasa dan menyiksa?”
Si anak tercenung. Alangkah bijaknya
sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang
kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu
bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul
menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak
melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan
merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak
hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk
angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang
disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak
menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.
Kemudian anak itu lebih terkesima
tatkala ayahnya meneruskan, “Anakku, jika aku membangun sebuah istana
anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan
gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak
tunawisma atau gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga
terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap
mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua
penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu
sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang
manusia saja.”
KISAH POHON APEL
Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel
yang amat besar. Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main
di sekitar pohon apel ini setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut,
memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia
beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki
tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga
menyukai anak tersebut.
Masa berlalu, anak lelaki itu sudah
besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya
setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu
hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih.
“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. “Aku bukan
lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau.” jawab
remaja itu. “Aku mahukan permainan. Aku perlukan uang untuk membelinya.”
tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata,
“Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk
mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kau
inginkan.”
Remaja itu dengan gembiranya memetik
semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi
selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih. Masa berlalu, suatu hari,
remaja itu kembali. Dia semakin dewasa.
Pohon apel itu merasa gembira.”Marilah
bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. “Aku tiada waktu
untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin
membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkah kau
menolongku?” Tanya anak itu.
Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah.
Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah
rumah daripadanya.” Pohon apel itu memberikan cadangan. Lalu, remaja
yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi
dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya
merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi setelah itu.
Suatu hari yang panas seorang lelaki
datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang
pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa.”
Marilah bermain-mainlah di sekitarku, “ajak pohon apel itu.” Maafkan
aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di
sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar.
Malangnya, aku tidak mempunyai boat. Bolehkah kau menolongku?” tanya
lelaki itu.
“Aku tidak mempunyai boat untuk
diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk
dijadikan boat. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata pohon apel
itu. Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu.
Dia kemudiannya pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi
selepas itu. Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang
semakin dimamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak
lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.
“Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi
untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual,
dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat boat. Aku hanya
ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan
nada pilu.
“Aku tidak mau apelmu kerana aku sudah
tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah
tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batang pohonmu kerana aku berupaya
untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki
tua itu.
“Jika begitu, istirahatlah di
perduku,””kata pohon apel itu.Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di
perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis
kegembiraan.
Tersebut. Sebenarnya, pohon apel yang
dimaksudkan di dalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapak kita. Bila
kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat
remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita
tinggalkan mereka dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita
didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan
melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Anda
mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon
apel itu. Tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan
anak-anak masa kini melayan ibu bapak mereka. Hargailah jasa ibu bapak
kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa menyambut hari
ibu dan hari bapak setiap tahun.
NABI SULAIMAN DAN SEMUT
Sulaiman bin Daud adalah satu-satunya
Nabi yang memperoleh keistimewaan dari Allah SWT sehingga bisa memahami
bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud Hud dan juga boleh
memahami bahasa semut. Dalam Al-Quran surah An Naml, ayat 18-26 adalah
contoh dari sebahagian ayat yang menceritakan akan keistimewaan Nabi
yang sangat kaya raya ini. Firman Allah, Dan Sulaiman telah mewarisi
Daud dan dia berkata, hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang
suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya [semua] ini
benar-benar suatu karunia yang nyata.
Dan dihimpunkan untuk Sulaiman
tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan
tertib [dalam barisan] sehingga apabila mereka sampai di lembah semut
berkatalah seekor semut, hai semut-semut, masuklah ke dalam
sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya,
sedangkan mereka tidak menyadari.
Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan
tertawa kerana mendengar perkataan semut itu. Katanya, Ya Rabbi,
limpahkan kepadaku karunia untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku; karuniakan padaku
hingga boleh mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku
dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh.
[An-Naml: 16-19]
Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu
hari Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut, Wahai semut! Berapa
banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?
Sebesar biji gandum, jawabnya.
Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut
sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu
tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun,
didapatinya si semut hanya memakan sebahagian biji gandum itu. Mengapa
engkau hanya memakan sebahagian dan tidak menghabiskannya? tanya Nabi
Sulaiman. Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah, jawab si
semut. Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahawa Dia tidak akan
melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah
engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh
memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Kerana
itu, aku harus tinggalkan sebahagian sebagai bekal tahun berikutnya.
Nabi Sulaiman, walaupun ia sangat kaya
raya, namun kekayaannya adalah nisbi dan terbatas. Yang Maha Kaya secara
mutlak hanyalah Allah SWT semata-mata. Nabi Sulaiman, meskipun sangat
baik dan kasih, namun yang Maha Baik dan Maha Kasih dari seluruh
pengasih hanyalah Allah SWT semata. Dalam diri Nabi Sulaiman tersimpan
sifat terbatas dan kenisbian yang tidak dapat dipisahkan; sementara
dalam Zat Allah sifat mutlak dan absolut.
Bagaimanapun kayanya Nabi Sulaiman, dia
tetap manusia biasa yang tidak boleh sepenuhnya dijadikan tempat
bergantung. Bagaimana kasihnya Nabi Sulaiman, dia adalah manusia biasa
yang menyimpan kedaifan-kedaifannya tersendiri. Hal itu diketahui oleh
semut Nabi Sulaiman. Kerana itu, dia masih tidak percaya kepada janji
Nabi Sulaiman ke atasnya. Bukan kerana khuatir Nabi Sulaiman akan ingkar
janji, namun khuatir Nabi Sulaiman tidak mampu memenuhinya lantaran
sifat manusiawinya. Tawakal atau berpasrah diri bulat-bulat hanyalah
kepada Allah SWT semata, bukan kepada manusia.
BURUNG ELANG YANG MALANG
Alkisah pada suatu hari seorang peternak
menemukan telur burung elang. Dia meletakkan telur burung elang
tersebut dalam kandang ayamnya. Telur itu dierami oleh seekor induk ayam
yang ada dikandang. Kemudian pada akhirnya telur elang tersebut
menetas, bersamaan dengan telur-telur ayam lain yang dierami oleh induk
ayam.
Elang kecil tumbuh bersama dengan
anak-anak ayam yang menetas bersamaan dengannya. Dia mengikuti apa yang
dikerjakan oleh anak-anak ayam tersebut, sambil mengira bahwa dia juga
adalah seekor ayam. Dia ikut mencakar-cakar tanah untuk mencari cacing
dan serangga. Dia menirukan suara ayam, berkotek-kotek dan bermain
bersama-sama anak ayam. Kadang dia mencoba mengepakkan sayapnya tapi
sekedar untuk meloncat tidak berapa jauh, seperti yang biasa dilakukan
oleh anak-anak ayam yang lain. Hari-hari berlalu, tahun berganti sampai
akhirnya elang ini cukup tua.
Pada suatu hari dia melihat burung
terbang tinggi di atas langit. Burung itu terbang melayang dengan megah
menantang angin yang bertiup kencang, tanpa mengepakkan sayap. Burung
elang tersebut bertanya pada temannya, seekor ayam. “Siapakah itu yang
terbang tinggi ?”
Temannya menjawab, dia adalah sang
burung Elang, raja dari segala burung. Dia adalah mahluk angkasa yang
bebas terbang menembus awan, kita adalah mahluk biasa yang tempatnya
memang mencari makan di bumi, kita hanyalah ayam. Akhirnya elang ini
melanjutkan hidupnya sebagai ayam, sampai akhir hayatnya. Dia tidak
pernah menyadari siapa sejatinya dirinya, selain seekor ayam, karena
itulah yang dia ketahui dan percaya sejak kecil.
SEMUT DAN KEPOMPONG
Seekor semut merayap dengan gesit di bawah sinar matahari. Memanjat
pohon, dan menelusuri ranting dengan lincah. Dia sedang mencari makanan
saat tiba-tiba dia melihat kepompong tergantung di selembar daun.
Kepompong itu terlihat mulai bergerak-gerak sedikit, tanda apa yang
ada di dalamnya akan segera keluar.
Gerakan-gerakan dari kepompong tersebut menarik perhatian semut yang baru pertama kali ini melihat kepompong yang bisa bergerak-gerak. Dia mendekat dan berkata,”Aduh kasian sekali kamu ini” kata semut itu dengan nada antara kasihan dan menghina.
“Nasibmu malang sekali, sementara aku bisa lari kesana kemari sekehendak hatiku, dan kalau aku ingin aku bisa memanjat pohon yang tertinggi sekalipun, kamu terperangkap dalam kulitmu, hanya bisa menggerakkan sedikit saja tubuhmu.”
Kepompong mendengar semua yang dikatakan oleh semut, tapi dia diam saja tidak menjawab.
Beberapa hari kemudian, saat semut kembali ketempat kepompong tersebut, dia terkejut saat melihat yang kepompong itu sudah kosong yang ada tinggal cangkangnya.
Saat dia sedang bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan isi dari kepompong itu, tiba-tiba dia merasakan hembusan angin dan adanya kepakan sayap kupu-kupu yang indah di belakangnya.
“Wahai semut, lihatlah diriku sekarang baik-baik” kupu-kupu yang indah menyapa semut yang tertegun melihatnya.
“Akulah mahluk yang kau kasihani beberapa hari lalu ! Saat itu aku masih ada di dalam kepompong. Sekarang kau boleh sesumbar bahwa kau bisa berlari cepat dan memanjat tinggi. Tapi mungkin aku tidak akan perduli, karena aku akan terbang tinggi dan tidak mendengar apa yang kau katakan.”
Sambil berkata demikian, kupu-kupu itu terbang tinggi ke udara, meniti hembusan angin, dan dalam sekejap hilang dari pandangan sang semut.
Gerakan-gerakan dari kepompong tersebut menarik perhatian semut yang baru pertama kali ini melihat kepompong yang bisa bergerak-gerak. Dia mendekat dan berkata,”Aduh kasian sekali kamu ini” kata semut itu dengan nada antara kasihan dan menghina.
“Nasibmu malang sekali, sementara aku bisa lari kesana kemari sekehendak hatiku, dan kalau aku ingin aku bisa memanjat pohon yang tertinggi sekalipun, kamu terperangkap dalam kulitmu, hanya bisa menggerakkan sedikit saja tubuhmu.”
Kepompong mendengar semua yang dikatakan oleh semut, tapi dia diam saja tidak menjawab.
Beberapa hari kemudian, saat semut kembali ketempat kepompong tersebut, dia terkejut saat melihat yang kepompong itu sudah kosong yang ada tinggal cangkangnya.
Saat dia sedang bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan isi dari kepompong itu, tiba-tiba dia merasakan hembusan angin dan adanya kepakan sayap kupu-kupu yang indah di belakangnya.
“Wahai semut, lihatlah diriku sekarang baik-baik” kupu-kupu yang indah menyapa semut yang tertegun melihatnya.
“Akulah mahluk yang kau kasihani beberapa hari lalu ! Saat itu aku masih ada di dalam kepompong. Sekarang kau boleh sesumbar bahwa kau bisa berlari cepat dan memanjat tinggi. Tapi mungkin aku tidak akan perduli, karena aku akan terbang tinggi dan tidak mendengar apa yang kau katakan.”
Sambil berkata demikian, kupu-kupu itu terbang tinggi ke udara, meniti hembusan angin, dan dalam sekejap hilang dari pandangan sang semut.
SEMUT DAN MERPATI
Pada suatu hari, seekor semut yang sedang berjalan-jalan mencari
makan di pinggir sungai. Seperti biasa dia berjalan dengan riang dan
karena kurang hati-hati tiba-tiba ia terjatuh ke dalam sungai.
Arus sungai menghanyutkannya, semut itu timbul tenggelam dan kelelahan berusaha untuk menepi tapi tidak berhasil. Seekor burung merpati yang kebetulan bertengger di ranting pohon yang melintang di atas sungai melihat semut yang hampir tenggelam dan merasa iba.
Burung merpati ini memetik daun dan menjatuhkannya didekat semut. Semut merayap naik ke atas daun dan akhirnya berhasil menyelamatkan dirinya dengan bantuan daun tersebut, mendarat di tepi sungai.
Tidak lama kemudian, sang semut melihat seorang pemburu burung sedang mengendap-endap berusaha mendekati burung merpati yang telah menolongnya tadi. Semut menyadari bahaya yang membayangi merpati yang baik tersebut, segera berlari mendekati pemburu, dan menggigit kaki sang pemburu.
Pemburu itu kesakitan dan terkejut, mengibaskan ranting yang tadinya akan digunakan untuk menangkap burung. Burung Merpati menyadari keberadaan pemburu yang sibuk mengibas-ngibaskan ranting kesakitan. Akhirnya sang burung pun terbang menyelamatkan dirinya.
Arus sungai menghanyutkannya, semut itu timbul tenggelam dan kelelahan berusaha untuk menepi tapi tidak berhasil. Seekor burung merpati yang kebetulan bertengger di ranting pohon yang melintang di atas sungai melihat semut yang hampir tenggelam dan merasa iba.
Burung merpati ini memetik daun dan menjatuhkannya didekat semut. Semut merayap naik ke atas daun dan akhirnya berhasil menyelamatkan dirinya dengan bantuan daun tersebut, mendarat di tepi sungai.
Tidak lama kemudian, sang semut melihat seorang pemburu burung sedang mengendap-endap berusaha mendekati burung merpati yang telah menolongnya tadi. Semut menyadari bahaya yang membayangi merpati yang baik tersebut, segera berlari mendekati pemburu, dan menggigit kaki sang pemburu.
Pemburu itu kesakitan dan terkejut, mengibaskan ranting yang tadinya akan digunakan untuk menangkap burung. Burung Merpati menyadari keberadaan pemburu yang sibuk mengibas-ngibaskan ranting kesakitan. Akhirnya sang burung pun terbang menyelamatkan dirinya.







