Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang
Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always
Sunday, October 2, 2011
Saturday, September 24, 2011
Liburan di miki Holidei
Walaupun suasananya bukan suasana liburan lagi, karena emang udah waktunya kuliah, tapi tetep aja kami maksa untuk liburan,, hehe..
lumayan,, bisa buat buang2 suntuk...
nih foto2 kami waktu liburan di miki holidei berastagi....
lumayan,, bisa buat buang2 suntuk...
nih foto2 kami waktu liburan di miki holidei berastagi....
Dari kiri ke kanan:
Fauzan, Nur hasanah, Rika Zanidar, Sri Ayuni, Suhadi Habibi, Imam Prayogo, Ilham, Novi, Vira yang terakhir si Tukiyem,,, hehehe...
Nih foto pas mau keluar dari Miki,,,, walaupun udah agak2 mual sih,,, hehe...
Nih Foto di tangga pintu masuk ke miki..
Eh eh eh,,, liat tuh si Rika,, sok kecakepan banget deh,,, ahahaha... Peace ka....
Nih Foto adegan kedinginan,,, tapi si novi, bibi nur malah bergaya yang aneh2,, hehe..
si rika kedinginannya gitu,, kalo kepanasan gimana ya ka?? ahahahaha...
Waduh,, nih foto lagi ngapain ya?? koq ada yang lagi loncat sendiri?!! ahahahaha
Nah,, ini jugag ada video waktu naek bum bum car... klin disini ya....
oya,, inh ada satu lagi,, klik disini ya....
itu aja deh yang bisa aku ceritain disini,,,
laen kali di ceritain lagi....
Friday, September 23, 2011
KISAH SESENDOK MADU
Ada sebuah kisah simbolik yang cukup
menarik untuk kita simak. Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja
dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji
kesadaran warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu
malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan
dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit ditengah kota.
Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan
kesediaan mereka untuk melaksanakannya.
Tetapi dalam pikiran seorang warga kota
[katakanlah si A] terlintas suatucara untuk mengelak, “Aku akan membawa
sesendok penuh, tetapi bukan madu.Aku akan membawa air. Kegelapan malam
akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok airpun tidak
akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga
kota.”
Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa
kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya
semua warga kota berpikiran sama dengansi A. Mereka mengharapkan warga
kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan
mungkin telah terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini
wajar jika agama, khususnya Islam,memberikan petunjuk-petunjuk agar
kejadian seperti di atas tidak terjadi:”Katakanlah [hai Muhammad],
inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian
yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku [QS 12:108. Dalam
redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari
dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia
melibatkan pengikut-pengikutnya.
"Berperang atau berjuang di jalan Allah
tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah
semangat orang-orang mukmin [pengikut-pengikutmu] [QS 4:84]. Perhatikan
kata-kata “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri.” Nabi
Muhammad SAW pernah bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian
susulkanlah keluargamu.” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan
bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang
harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat
menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.
KISAH QARUN
Qarun adalah kaum Nabi Musa,
berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari suku Qibthi [Gypsy, bangsa
Mesir]. Allah mengutus Musa kepadanya seperti diutusnya Musa kepada
Fir’aun dan Haman. Allah telah mengaruniai Qarun harta yang sangat
banyak dan perbendaharaan yang melimpah ruah yang banyak memenuhi lemari
simpanan. Perbendaharaan harta dan lemari-lemari ini sangat berat untuk
diangkat karena beratnya isi kekayaan Qarun. Walaupun diangkat oleh
beberapa orang lelaki kuat dan kekar pun, mereka masih kewalahan.
Qarun mempergunakan harta ini dalam
kesesatan, kezaliman dan permusuhan serta membuatnya sombong. Hal ini
merupakan musibah dan bencana bagi kaum kafir dan lemah di kalangan Bani
Israil. Dalam memandang Qarun dan harta kekayaannya, Bani Israil
terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang yang
beriman kepada Allah dan lebih mengutamakan apa yang ada di sisi-Nya.
Karena itu mereka tidak terpedaya oleh harta Qarun dan tidak
berangan-angan ingin memilikinya. Bahkan mereka memprotes kesombongan,
kesesatan dan kerusakannya serta berharap agar ia menafkahkan hartanya
di jalan Allah dan memberikan kontribusi kepada hamba-hamba Allah yang
lain. Adapun kelompok kedua adalah yang terpukau dan tertipu oleh harta
Qarun karena mereka telah kehilangan tolok ukur nilai, landasan dan
fondasi yang dapat digunakan untuk menilai Qarun dan hartanya. Mereka
menganggap bahwa kekayaan Qarun merupakan bukti keridhaan dan kecintaan
Allah kepadanya. Maka mereka berangan-angan ingin bernasib seperti itu.
Qarun mabuk dan terlena oleh melimpahnya
darta dan kekayaan. Semua itu membuatnya buta dari kebenaran dan tuli
dari nasihat-nasihat orang mukmin. Ketika mereka meminta Qarun untuk
bersyukur kepada Allah atas sedala nikmat harta kekayaan dan memintanya
untuk memanfaatkan hartanya dalam hal yang bermanfaat, kebaikan dan hal
yang halal karena semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak seraya
mengatakan “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang
ada padaku”
Suatu hari, keluarlah ia kepada kaumnya
dengan kemegahan dan rasa bangga, sombong dan congkaknya. Maka hancurlah
hati orang fakir dan silaulah penglihatan mereka seraya berkata,
“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa diberikan kepada Qarun,
sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”Akan
tetapi orang-orang mukmin yang dianugerahi ilmu menasihati orang-orang
yang tertipu seraya berkata, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala
Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh”
Berlakulah sunnatullah atasnya dan murka
Allah menimpanya. Hartanya menyebabkan Allah murka, menyebabkan dia
hancur, dan datangnya siksa Allah. Maka Allah membenamkan harta dan
rumahnya kedalam bumi, kemudian terbelah dan mengangalah bumi, maka
tenggelamlah ia beserta harta yang dimilikinya dengan disaksikan oleh
orang-orang Bani Israil. Tidak seorangpun yang dapat menolong dan
menahannya dari bencana itu, tidak bermanfaat harta kekayaan dan
perbendaharannya.
Tatkala Bani Israil melihat
bencana yang menimpa Qarun dan hartanya, bertambahlah keimanan
orang-orang yang beriman dan sabar. Adapaun mereka yang telah tertipu
dan pernah berangan-angan seperti Qarun, akhirnya mengetahui hakikat
yang sebenarnya dan terbukalah tabir, lalu mereka memuji Allah karena
tidak mengalami nasib seperti Qarun. Mereka berkata, “Aduhai, benarlah
Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari
hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan
karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita [pula].
Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari [nikmat
Allah].”













