Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang

Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always

Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang

Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always

Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang

Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always

Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang

Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always

Nih Foto-Foto Saya Bersama Orang-Orang Tersayang

Thanks Buat Semuanya yang udah pernah buat aku tersenyum dan merasa "ada" di dunia ini. Suhadi habibi Loving You All As Always

Wednesday, April 27, 2011

Stress aku... ha... :(

Gak tahan lagi rasanya, nyimpen semua keluh kesah dihati ini...
Aku gak ngerti,, udah berkali2 kucoba,, tetep gak bisa ngerti,,
mau nanyak sama siapa, mau ngadu sama siapa,
Ternyata begitu berat jugag perjalanan ini,
begitu kerdilnya kurasa diriku berada di antara mereka...

Ya Allah,, kalau saja semua bisa serba instan,, aku ingin mengerti semuanya,,
biar aku bisa nge-jelasin ke semua, biar mereka jugag ngerti.
ini aku jugag gak tau, temen2 jugag gag tau, kalo dijelasin, kan jadi sama-sama bingung...

Hmh,, help me God...

Monday, April 18, 2011

Kumpulan Dongeng: Alibaba dan 40 penyamun

Dahulu kala, dikota Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba.
Alibaba adalah adik Kasim yang hidupnya miskin dan tinggal di daerah pegunungan. Ia
mengandalkan hidupnya dari penjualan kayu bakar yang dikumpulkannya. Berbeda dengan
abangnya, Kasim, seorang yang kaya raya tetapi serakah dan tidak pernah mau
memikirkan kehidupan adiknya.
Suatu hari, ketika Alibaba pulang dari mengumpulkan kayu bakar, ia melihat segerombol
penyamun yang berkuda. Alibaba segera bersembunyi karena takut jika ia terlihat, ia
akan dibunuh. Dari tempat persembunyiannya, Alibaba memperhatikan para
penyamun yang sedang sibuk menurunkan harta rampokannya
dari kuda mereka. Kepala penyamun tiba-tiba berteriak,
"Alakazam ! Buka!..". Pintu gua yang ada di depan mereka
terbuka perlahan-lahan. Setelah itu mereka segera
memasukkan seluruh harta rampokan mereka. "Alakazam !
tutup! " teriak kepala penyamun, pintu gua pun tertutup.
Setelah para penyamun pergi, Alibaba memberanikan diri keluar dari tempat
sembunyinya. Ia mendekati pintu gua tersebut dan meniru teriakan kepala penyamun
tadi. "Alakazam! Buka!.." pintu gua yang terbuat dari batu itu
terbuka. "Wah! Hebat!" teriak Alibaba sambil terpana
sebentar karena melihat harta yang bertumpuk-tumpuk
seperti gunung. "Gunungan harta ini akan Aku ambil sedikit,
semoga aku tak miskin lagi, dan aku akan membantu
tetanggaku yang kesusahan". Setelah mengarungkan harta dan
emas tersebut, Alibaba segera pulang setelah sebelumnya menutup pintu gua. Istri
Alibaba sangat terkejut melihat barang yang dibawa Alibaba. Alibaba kemudian bercerita
pada istrinya apa yang baru saja dialaminya. "Uang ini sangat banyak! bagaimana jika kita
bagikan kepada orang-orang yang kesusahan.." ujar istri Alibaba. Karena terlalu banyak,
uang emas tersebut tidak dapat dihitung Alibaba dan istrinya. Akhirnya mereka sepakat
untuk meminjam kendi sebagai timbangan uang emas kepada saudaranya, Kasim. Istri
Alibaba segera pergi meminjam kendi kepada istri Kasim. Istri Kasim, seorang yang
pencuriga, sehingga ketika ia memberikan kendinya, ia mengoleskan minyak yang sangat
lengket di dasar kendi.
Keesokannnya, setelah kendi dikembalikan, ternyata di dasar kendi ada sesuatu yang
berkilau. Istri Kasim segera memanggil suaminya dan memberitahu suaminya bahwa di
dasar kendi ada uang emas yang melekat. Kasim segera pergi ke rumah Alibaba untuk
menanyakan hal tersebut. Setelah semuanya diceritakan Alibaba, Kasim segera kembali
ke rumahnya untuk mempersiapkan kuda-kudanya. Ia pergi ke gua harta dengan membawa
20 ekor keledai. Setibanya di depan gua, ia berteriak "Alakazam! Buka!", pintu batu gua
bergerak terbuka. Kasim segera masuk dan langsung mengarungkan emas dan harta yang
ada di alam gua sebanyak-banyaknya. Ketika ia hendak keluar, Kasim lupa mantra untuk
membuka pintu, ia berteriak apa saja dan
mulai ketakutan. Tiba-tiba pintu gua bergerak, Kasim
merasa lega. Tapi ketika ia mau keluar, para penyamun
sudah berada di luar, mereka sama-sama terkejut. "Hei
maling! Tangkap dia, bunuh!" teriak kepala penyamun.
"Tolong! saya jangan dibunuh", mohon Kasim. Para
penyamun yang kejam tidak memberi ampun kepada
Kasim. Ia segera dibunuh.
Istri Kasim yang menunggu di rumah mulai kuatir karena sudah seharian Kasim tidak
kunjung pulang. Akhirnya ia meminta bantuan Alibaba untuk menyusul saudaranya
tersebut. Alibaba segera pergi ke gua harta. Disana ia sangat terkejut karena mendapati
tubuh kakaknya sudah terpotong. Setibanya dirumah, istri Kasim menangis sejadi-jadinya.
Untuk membantu kakak iparnya itu Alibaba memberikan sekantung uang emas kepadanya.
Istri Kasim segera berhenti menangis dan tersenyum, ia sudah lupa akan nasib suaminya
yang malang. Alibaba membawa tubuh Kasim ke tukang sepatu untuk menjahitnya kembali
seperti semula. Setelah selesai, Alibaba memberikan upah beberapa uang emas.
Dilain tempat, di gua harta, para penyamun terkejut, karena mayat Kasim sudah tidak ada
lagi. "Tak salah lagi, pasti ada orang lain yang tahu tentang rahasia gua ini, ayo kita cari
dan bunuh dia!" kata sang kepala penyamun. Merekapun mulai berkeliling pelosok kota.
Ketika bertemu dengan seorang tukang sepatu, mereka bertanya, "Apakah akhir-akhir ini
ada orang yang kaya mendadak ?". "Akulah orang itu, karena setelah menjahit mayat yang
terpotong, aku menjadi orang kaya". "Apa! Mayat! Siapa yang memintamu melakukan itu?"
Tanya mereka. "Tolong antarkan kami padanya!".
Setelah menerima uang dari penyamun, tukang sepatu
mengantar mereka ke rumah Alibaba. Si penyamun segera
memberi tanda silang dipintu rumah Alibaba. "Aku akan
melaporkan pada ketua, dan nanti malam kami akan datang
untuk membunuhnya," kata si penyamun. Tetangga Alibaba,
Morijana yang baru pulang berbelanja melihat dan
mendengar percakapan para penyamun.
Malam harinya, Alibaba didatangi seorang penyamun yang menyamar menjadi seorang
pedagang minyak yang kemalaman dan memohon untuk menginap sehari di rumahnya.
Alibaba yang baik hati mempersilakan tamunya masuk dan memperlakukannya dengan baik.
Ia tidak mengenali wajah si kepala penyamun. Morijana, tetangga Alibaba yang sedang
berada di luar rumah, melihat dan mengenali wajah penyamun tersebut.
Ia berpikir keras bagaimana cara untuk memberitahu
Alibaba. Akhirnya ia mempunyai ide, dengan menyamar
sebagai seorang penari. Ia pergi ke rumah Alibaba untuk
menari. Ketika Alibaba, istri dan tamunya sedang
menonton tarian, Morijana dengan cepat melemparkan
pedang kecil yang sengaja diselipkannya di bajunya ke
dada tamu Alibaba.
Alibaba dan istrinya sangat terkejut, sebelum Alibaba bertanya, Morijana membuka
samarannya dan segera menceritakan semua yang telah dilihat dan didengarnya.
"Morijana, engkau telah menyelamatkan nyawa kami, terima kasih". Setelah semuanya
berlalu, Alibaba membagikan uang peninggalan para penyamun kepada orang-orang miskin
dan yang sangat memerlukannya.

Dongeng Rakyat: Saudagar jerami

Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama
Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal di
lumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil
untuk berdoa. "Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja
dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak
berkercukupan". "Tolonglah aku agar hidup senang". Sejak
saat itu setiap selesai bekerja, Taro
Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil,
Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang
menggenggam sebatang jerami. "Oh, jadi yang dimaksud
Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan
kebahagiaan?", pikir Taro. Walaupun agak kecewa dengan
benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil
membawa jerami. Di tengah jalan ia menangkap dan
mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan
ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut
terbang berputar-putar pada jerami yang sudah
diikatkan pada sebatang ranting. "Wah menarik ya", ujar
Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal.
Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil
memperhatikan lalat Taro. "Aku ingin mainan itu."
Seorang pengawal datang mengha
mpiri Taro dan meminta mainan itu. "Silakan ambil", ujar Taro. Ibu anak tersebut
memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro.
"Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk", ujar Taro dalam hati. Ketika
meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat
kehausan. "Maaf, adakah tempat di dekat sini mata air ?", tanya wanita tadi. "Ada di kuil,
tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku", kata Taro
sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu. "Terima kasih, berkat engkau, aku
menjadi sehat dan segar kembali". Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih
kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa
kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro,
kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi. "Aduh, padahal kita sedang
terburu-buru." Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu.
Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya
Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu.
Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian
dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2
gulung kain yang tersisa.
Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta
makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia
memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu
memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat
senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu
Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di
rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu
dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya.
Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan
barang-barang. "Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro. Kemudian taro
masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik
rumah berkata, "Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak
mempunyai uang. Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?". "Baik, uang kalau dipakai
segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau
ditukar", kata Taro.
"Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau
tinggal disini untuk menjaganya ?", Tanya si pemilik rumah. "Baik, Terima kasih Tuan".
Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan
menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya
yang sangat banyak.
Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia
diberi julukan "Saudagar Jerami". Para tetangganya yang kaya datang kepada
Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh
Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang
gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja
dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai
seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si
pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan
demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.

Dongeng Lucu: Balas budi burung bangau

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya
mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil
penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap
harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang
dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas
salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung
bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta.
Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu
sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku
beberapa kali sebelum
terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku
segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara
ketukan pintu di luar rumah.
Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik
sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan
salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan
hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona
mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku. "Aku
bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju
turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku
menginap disini malam ini ?". "Boleh
saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan.", kata Yosaku. "Tidak
apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". Kemudian gadis itu merapikan
kamarnya dan memasak makanan yang enak.
Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir
bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan
lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda.
Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal
terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini
panggillah aku Otsuru", ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan
pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku,
membelikannya benang karena ia ingin menenun.
Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar
jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat
Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut
menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain
tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. Kalau
dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal.
Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang
dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang
untuk dibawa pulang. "Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih
istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih
banyak lagi. "Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat
setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus.
Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.
Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak
ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya.
"Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru.
Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun,
Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat
terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun,
ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk
ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir
gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya
sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah
wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya
juga", ujar Otsuru.
"Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas
budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar
Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah
denganmu", lanjut Otsuru. "Maafkan aku, ku
mohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru
akhirnya berubah kembali menjadi seekor
bangau. Kemudian ia segera mengepakkan
sayapnya terabng keluar dari rumah ke
angkasa.
Tinggallah Yosaku sendiri
yang menyesali perbuatannya.

Sunday, April 17, 2011

What's wrong with love?

Women come in the name of love
Flooded orange poison in your face
Like the moon deep sleep your heart
Dark-walled and cold
What's the matter with him?
Leaving care to be abused
Then once I see the heavens from a weather eye
What's wrong with love?
But I'm definitely going back in a full moon
To question the love
Not for him,
Not for whom,
But for me
Because I want you, that's all.

Wednesday, April 6, 2011

Puisi Rangga

Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai kemudian teriakku
Sepi, sepi dan sendiri aku benci
Aku ingin bingar
Aku mau dipasar
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
Di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya
Biar terdera
Atau aku harus lari ke hutan, belok ke pantai?

Ada Apa Dengan Cinta?

Perempuan datang atas nama cinta
Digenangi air racun jingga dalam wajahmu
Seperti bulan lelap tidur dihatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya,
Bukan untuk siapa,
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu, itu saja.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More